SELAMAT DATANG DI BLOG CAH SEMAR - NGELOWETAN MIJEN,DEMAK

Senin, 12 Maret 2012

Sekian Sudah, Sayang


Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah.
Waktu yang diam itu :
Ya – dia yang diam itu
Yang tak berkata sedikitpun
Yang membisu seperti batu.
Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah,
Yang detaknya – langkahnya :
Menjinjit-jinjit tak terdengar
Yang bagai langkah sepi tak menyuara :
Berhati hati –
Yang mendiam seperti diam.
Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah
Tawa –ragu –bisu
Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah
Kita tak akan lagi menggeram :
Seperti jeram.
Kita tak akan lagi berdiri tegak :
Merasakan matahari terbit di puncak gunung.
Kita tak akan lagi bersama seperti :
Pucuk cemara yang menggoyang daunnya serentak
Yang bernyanyi-nyanyi ketika tertiup angin gunung : berisik seketika.
Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah
Biar jiwa kita berjalan satu persatu
Tak beriringan
Sekian sudah Sayang
Sekian sudah
Biarkan :
Waktu yang diam itu :
Ya – dia yang diam itu
Yang tak mengucap  kata sedikitpun
Yang membisu seperti batu.
Sekian saja Sayang,
Sudahkan saja.
Riak-riak jiwa kita kita
Terjalankan sebegitunya
Terempas-hempas
Terkatung-katung
Menggenapi kata-Nya :
Sendiri yang sendirian
Tak beriringan.
Sekian sudah Sayang,
Sekian sudah
Mari mendiam :
Memang itu adanya.
Dan tangispun,
Biarkan saja –sejenak merajalela
Dalam perjalanan :
Sendiri yang sendirian
Satu persatu
Tak beriringan.
Kekalahan.
Perpisahan.
Lambaian tangan.
Sekian sudah Sayang,
Sudahkan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar